"Mau ke pantai atau ke gunung?, tanya suami ke anak-anak waktu kita perjalanan menuju Jogja dari Jakarta.
"Pantaiiiiii,", anak-anak langsung kompak menjawab destinasi piknik favorit mereka.
Yes, selama ini memang antara gunung dan pantailah area jalan-jalan kami sekeluarga. Menyelami alam Indonesia saja tidak ada habis-habisnya. Bahkan di Jogja saja, dari sekian banyak wisata yang ada, barangkali baru 20-30%nya saja yang kami sempat singgahi.
Sampai kemudian, kami pindah ke Jakarta, otomatis ketika ada kesempatan ke Jogja, maka langsung jiwa travelling pun memanggill-manggil lagi.
Jogja, tepatnya di gunungkidul, terhampar deretan pantai di area gunungkidul yang terbilang indah dan memukau. Pasir putihnya memang jadi perhatian khusus dari para penikmat pantai, seperti saya, suami dan anak-anak.
Ya maklum, namanya juga wisata di Indonesia, asal itu viral, maka langsung berbondong-bondonglah orang-orang, begitu pula sisi komersialnya. Bukan tidak menentang orang berbisnis di tempat tersebut, tapi rasa-rasanya sayang kalau pantai yang perawan nan cantik, terus jadi hilang kealamiannya karena mengejar pundi-pundi uang. Padahal, wisata pantai bisa jadi aset jangka panjang, jika kita bisa terus menjaganya.
Nah, nyambung dari paragraf awal di postingan ini, maka saya pun berpikir, kira-kira ke pantai mana ya, yang masih alami. Lalu saya menghubungi Bima, salah satu partner siaran radio waktu masih di Jogja. Bima rekomendasi Pantai Ngrawe, ia bilang, ini pantainya ada aturan khusus, tidak boleh ada pasang tikar seperti pantai gunungkidul kebanyakan, karena pantai Ngrawe ini ada di dekat resort.
Ok, akhirnya saya dan suami sepakat mengajak anak-anak kesana. Tapi ternyata, sebelum kami belok ke Pantai Ngrawe, kami menemukan pantai tersembunyi lainnya, yaitu Pantai Mbuluk. Lokasinya memang di belakang bukit, jadi butuh kejelian mata kita buat mencari jejak jalannya.
Sebelum naik ke jembatan, di dekat tangga naiknya ada kotak untuk memasukkan uang. Yaitu 3000 rupiah, eh saya kok lupa 3000 itu untuk per orang atau gimana ya? Waktu itu saya masukin 5000 sih, dan belum ada penjaganya, karena masih cukup pagi. Saat kami naik ke jembatan, juga masih terbilang sepi. Jadi hanya kami berempat yang ada di jembatan Pantai Mbuluk ini.
"Pantaiiiiii,", anak-anak langsung kompak menjawab destinasi piknik favorit mereka.
Yes, selama ini memang antara gunung dan pantailah area jalan-jalan kami sekeluarga. Menyelami alam Indonesia saja tidak ada habis-habisnya. Bahkan di Jogja saja, dari sekian banyak wisata yang ada, barangkali baru 20-30%nya saja yang kami sempat singgahi.
Sampai kemudian, kami pindah ke Jakarta, otomatis ketika ada kesempatan ke Jogja, maka langsung jiwa travelling pun memanggill-manggil lagi.
Jogja, tepatnya di gunungkidul, terhampar deretan pantai di area gunungkidul yang terbilang indah dan memukau. Pasir putihnya memang jadi perhatian khusus dari para penikmat pantai, seperti saya, suami dan anak-anak.
Pencarian Pantai Yang Masih *Perawan*
Pengalaman terakhir ke pantai itu sebelum pindah ke Jakarta, kami ke pantai Drini yang juga ada di deretan pantai-pantai gunungkidul. Nyatanya, cukup kecewa sih, karena Pantai Drini ini sudah tidak seperti dulu lagi. Maaf, malah terkesan kumuh dengan banyaknya tikar dan payung di pinggir pantai. Belum lagi kondisi pasirnya yang jauh dari kata putih. Wes lethek, atau sudah terlihat kusam kotor dan tidak bersih lagi seperti dulu.Ya maklum, namanya juga wisata di Indonesia, asal itu viral, maka langsung berbondong-bondonglah orang-orang, begitu pula sisi komersialnya. Bukan tidak menentang orang berbisnis di tempat tersebut, tapi rasa-rasanya sayang kalau pantai yang perawan nan cantik, terus jadi hilang kealamiannya karena mengejar pundi-pundi uang. Padahal, wisata pantai bisa jadi aset jangka panjang, jika kita bisa terus menjaganya.
Nah, nyambung dari paragraf awal di postingan ini, maka saya pun berpikir, kira-kira ke pantai mana ya, yang masih alami. Lalu saya menghubungi Bima, salah satu partner siaran radio waktu masih di Jogja. Bima rekomendasi Pantai Ngrawe, ia bilang, ini pantainya ada aturan khusus, tidak boleh ada pasang tikar seperti pantai gunungkidul kebanyakan, karena pantai Ngrawe ini ada di dekat resort.
Ok, akhirnya saya dan suami sepakat mengajak anak-anak kesana. Tapi ternyata, sebelum kami belok ke Pantai Ngrawe, kami menemukan pantai tersembunyi lainnya, yaitu Pantai Mbuluk. Lokasinya memang di belakang bukit, jadi butuh kejelian mata kita buat mencari jejak jalannya.
Pantai Mbuluk, Spot Instagramable Yang Ngeri-Ngeri Sedap!
Setelah sampai ke Pantai Mbuluk, kami langsung mencari tempat untuk bermain pasirnya. Jelas yaaa, pasti ini yang anak-anak cari pertama kali. Tapi ternyata, ini memang pantai tidak terlalu lebar, dan terbilang curam kalau menuju ke bawah untuk bermain air dan pasir. Apalagi saat kami datang, air sedang pasang. Tengok kanan kiri, ternyata suami menemukan tangga dekat bukit. Arahnya menuju ke bebatuan karang di perbukitan kecil.
Tangga terbuat dari bambu, dan memang secara safety yaaa so soooo yaaa. Berbekal Bismillah yang kuattt deh pokoknya, hehe. Naiknya pun cukup tinggi, lalu kita akan berada di jembatan yang berada di atas deburan ombak pantai.
| Inilah jembatan yang ada di Pantai Mbuluk, ada pembatasan jumlah orang yang naik kesini |
Sasha, anak kedua saya, sempat ragu dan takut untuk naik, tapi karena lihat kakaknya antusias, ia pun ikut penasaran naik ke jembatan. See, pemandangannya cantik banget kan dari atas sini? Itu bawahnya langsung karang-karang dan deburan ombak, lumayan ngeri-ngeri sedap sih jalan di atas sini, apalagi sambil berpose, hehe.
| Terlihat kan, air laut di belakang saya sedang pasang! Bikin tambah ngeri-ngeri sedap berpose disini 😅 |
Setelah menaiki jembatan, ada juga spot foto-foto di semacam tebing kecil diatas pantai. Duh, yang ini juga bikin mules-mules posenya, hahaha
| Suami foto disini dengan tenangnya, saya yang heboh 😣 |
Kalau cuma dari foto, kayaknya terlihat itu hanya pasir nempel ke pantai gitu ya. Padahal itu aslinya lumayan tinggggiiiiii jaraknya dari tempat foto ke laut yang dibawahnya. Pastikan pakai sepatu sneakers atau sandal gunung, supaya lebih aman saat naik ke tebing ini. Kalau pakai sendal biasa, apalagi nyeker, duh dijamin itu kerasa ketusuk-tusuk banget dengan bebatuan karangnya yang cukup tajam.
![]() |
| Ini miring posisi tebingnya. Ya iyalah kan tebing! wkwkwk |
Jadi memang, ketika wisata ke Pantai Mbuluk ini, pastikan safety first. Meski tergoda banget tuh buat makin ke pinggir tebing biar dapet view foto yang makin cakep, tapi yaaaa makin ngeri dan bahaya buat keselamatan kita.
Cara Menuju Pantai Mbuluk Gunungkidul
Kalau dari arah pusat kota, perjalanan ke Pantai Mbuluk ini kurang lebih hampir 2 jam, dengan catatan ini pagi hari ya berangkatnya, sebelum jam 7 pagi. Kalau sudah makin siang, jangan tanya gimana macetnya, dan bahkan teman saya ada yang sampai 4-5 jam hanya untuk sampai pantai.
Tipsnya memang pergi sepagi mungkin, dan keluar dari lokasi sebelum keramaian membludak. Ya, mana enak kan, wisata pantai tapi orangnya segambreng kayak cendol?
Nah, lalu gimana dengan Pantai Ngrawe, pantai yang teman saya rekomendasikan sebelum akhirnya menemukan Pantai Mbuluk yang menantang di atas tebing ini? Cuss nanti hadir di postingan berikutnya aja ya. Keep stay tune!


Mbak maaf Wonosari itu kecamatan, ibukota Gunungkidul, letaknya di tengah seperti pada peta yg mbak cantumkan di postingan, bukan di pinggir daerah pantai. Pantai mbuluk letaknya di kecamatan Tanjungsari bukan Wonosari. Maaf cuma meralat ����
ReplyDeleteSip. Noted, makasi pencerahannyaaa Des, udah diedit yaakk
Deletewuahhh kayaknya keren nih. bisa jadi destinasi wisata pas kita main ke jogja. tapi aku berani gak ya poto2 di tebing gitu? takut ketinggian plus takut air soalnya.
ReplyDeleteIyaaa mb, seru seruu sekaligus deg-degan, hehe
DeleteAku asli klaten yang harus hijrah ke bandung. Gunung kidul memang surganya obyek wisata alam ya mba, pantainya indah, buanyaaak lagi. Gunung dan bukit juga kalah banyak. Rasanya ga habis2 jelajahi gunung kidul.
ReplyDeleteBener saking banyaknyaaaaa
DeleteKeren viewnya. Tp bener sih, ngeri2 sedap. Harus stay safe ya selama berwisata.
ReplyDeleteYes betul mbaaa, harus tetep stay safe, gak neko neko sampe ke pinggir-pinggir tebing
DeleteWuih... berani bawa anak naik. Aku yang ngeliat aja ngeri. Buat uji adrenalin mantap juga ini. Beneran bagus pemandanagannya.
ReplyDeleteIyess betul, anak-anak udah pada ketularan jiwa adventurer bapaknyaaa ini, hehe
DeleteMupeng .... Pengen ke sana, lampung banyak sih destinasi pantai juga. Tapi kayaknya ini nuansanya beda. Semoga kelak dimampukan ke sana. Aamiin
ReplyDeleteIyaaa gak cuma main pasir ajaaa
Deletepengen nih ke pantai itu. semoga bisa ya. makasih infonya mba
ReplyDeleteSippp mb, saya pun masih pengen kesana lagi, hehe
DeleteWhoaa, pantainya baguuuussss bangeett
ReplyDeleteIni menyenangkan sekali, kalo jadi destinasi wisata keluarga yaaa
atau rame2 ke sana ama geng cewek hihihi
Kalo ama geng cewek, jangan lupa OOTDnya kompakan, xixixii
DeleteDuh keren tp aku nyalinya ga gede apalagi banyak kejadian yg demi konten sampai gimana hehe, stay safe ya
ReplyDeleteSetuju! Pesona Yogyakarta memang nggak ada habisnya. Aku malah kepengen banget beneran eksplor Gunung Kidul. Tapi saking banyaknya destinasi wisata di sana, mungkin butuh waktu paling nggak satu minggu gitu ya, biar puas. Ealah ... Habis, habis deh jatah cuti.
ReplyDeleteMbak ... Aku suka banget ih sama view yang di jembatan itu. Cantik banget dilihatnya. Goyang-goyang gitu nggak sih jembatannya. Suka ngeri-ngeri sedap kalau deburan ombak di bawahnya kenceng.
Jadi pingin ke pantai Mbuluk
ReplyDeleteKesana ah bareng anak anak
Terus terang dengan kondisi bawa anak usia 2 tahunan dan anak²ku pd lincah banget, aku skip deh ke pantai mbuluk ini Mbak Inna.. One day kl pd gede smua mgkin ke sana hehe... Btw seru ya jembatannya Mbak....happening banget buat uji jiwa petualang tuh
ReplyDeleteUuhh Yogya tuh ya emang gada matinya. Jembatannya cantik ya viewnya, pantainya sepi atau karena masih pagi jadi sepi mbak ? Mendadak ingin mantai nih
ReplyDeletePantainya masih alami ya..dan noted, ke sini mesti pagi sebelum yang lain datang hihihi
ReplyDeleteSeger bener lihat pemandangan dan birunya lautan. Dan itu tangga ngeri memang ya...
Kalau pantai masih perawan begini penginnya jangan banyak orang yang tahu biar nanti ga ditambah ini itu yang kadang malah bikin jelek. Dan jadi penuh orang kwkwk
DeleteJadi pengin ke pantai euy
Wah, masih baru banget pantai ini dijadikan tempat wisata ya mba.Tapi aksesibilitasnya masih belum kids friendly ya. Semoga ke depannya semakin berkembang. Ngomong-ngomong, Mbluk itu artinya apa mba? Jadi pengen tahu saya. Hehehe
ReplyDeleteMasya Allah indah banget pantainya, kalau naik tebing tinggi enggak Mbk? Aku suka banget ke Pantai, keluarga juga selalu hebhoh kalau mau ke pantai, mantap banget deh.
ReplyDeletePantai di GUnung Kidul itu emang eksotis banget ya Mba
ReplyDeleteaku kemarin dari Drini, ga sempat lagi eksplore yang lain hiks
moga kapan2 bisa ke mari.
Harus ekstra hati-hati ya melangkah di jembatannya itu, apalagi kalau pas rame pengunjung.
ReplyDeletePantainya bersih, pemandangannya juga bagus. Semoga kelestariannya tetap terjaga
Waah... Seru dan sereem kwkwk.. Ngeri banget kalau sy diajakin ke situ tapi sukaa pemandangannya. Biasanya yang lebih berani si Mas.. Kalau sy mending cari yang aman aja daripada jantungan. Hihi
ReplyDeleteOkey next time kalau ke Jogja lagi aku bakal mampir ke Pantai Mbuluk ini, terima kasih infonya ya mbak :)
ReplyDeleteAsyik juga ya ke Pantai yang banyak tebingnya kayak gini. Banyak spot menarik buat foto2 bukan hanya dengan latar lautnya. Hehe jembatannya itu bikin ngeri2 sadap ya apalagi kalau liat ke bawah hehe tapi beneran pantai Mbuluk ini unik deh keliatannya.
ReplyDeleteBoleh juga tempat recommended buat wisata pas ke Jogja, sekalian uji nyali..thanks informasinya mba😁
ReplyDeletePemandangannya cakep sekali mbak. Masya Allah.. Tapi nggg anuuu..ngeri juga sih sebenarnya, takut tiba-tiba ada ombak besar terus kitanya ada di situ. Duh serem~
ReplyDeleteSuamiku orang Gunung Kidul, tapi aku baru berkunjung ke pantainya beberapa doang. Pantai ini suami lom pernah nyebut. Tagih ah, kalau mudik ke Gunung Kidul. Tapi, asli ngeri naik jembatan bambunya.
ReplyDeleteDuh, kok ngeri ya ngebayanginnya. Tapi terbayar sih dengan pemandangan yang indah.
ReplyDeleteWah saya lom pernah nih ke Gunung Kidulnya lebih bagus juga ya, kalau ke Yogya mesti kesana nih buat wisata alamnya
ReplyDeleteNgeri-ngero sedap pantainya nih mbak, kalau saya mungkin belum berani 😁
ReplyDeleteCantik ya, mbak. Tapi saya bacanya jadi ikut deg degan, apalagi saya takut ketinggian.
ReplyDeleteBelum pernah ke pantai ini saya, Mbak. Akses menuju ke sana bagaimana? Lihat foto-fotonya seneng banget lihat view pantai. Itu ada yang ombaknya lagi tinggi.
ReplyDeleteWuih cantik banget deh pemandangannya. Aku udah lama deh gak main ke tempat yang begini. 😍
ReplyDeleteitu jembatannya aman mbak? ngeri juga ya pakai bambu-bambu gitu. mana udah tua pula.
ReplyDeletetapi pantainya bagus. masih perawan pula.
Seru banget ih kayany, pantai, tebing,Deburan ombak. MasyaAllah...
ReplyDeleteWaaah seruuu... Walau sedikit ngeri, tapi justru itulah keseruannya. Di kampung saya banyak sih dulu jembatan kayak gitu, tapi nggak ada ombaknya kali😆 yang penting happy ya bunda👍
ReplyDeleteKakakku di Jogja tapi aku gagal terus kalau mau ke pantai. Habis Jogjanya kan Kaliurang Mbak, jadi kita ke gunung terus. Asal mau ke Gunung Kidul udah ngeri duluan sama macetnya. Perlu perjuangan memang, tapi sepadan sama pemandangana yang kita dapatkan.
ReplyDeleteIya banget deh Mba. Kalau pantainya sudah viral, bakalan banyak dikunjungi dan ujung-ujungnya nggak bakalan cantik lagi.
ReplyDeleteAduh ini beneran tepi tebing gini ya. Uwww ... ngeri ngeri tapi cantik ya.
Itu kalau mau foto di jembatannya kudu langsung jepret ajalah, ngeri-ngeri nya bikin merinding, wkwkw, padahal sih kalau dapat fotonya bakal seneng banget ya
ReplyDeleteDuh cakep banget mba Inna. Mupeng pengen kesana ahay. Kereen banget yah
ReplyDeletewah ini mah pas banget postingannya pas aku rencana mau pergi bersama keluarga besar k Jogja mba, karena iya emang pantai di daerah gunkid udah ga seeksotis dulu lagi, malah terkesan kumuh. Cussss
ReplyDeleteJadi memang harus pagi banget ya biar free tiket.. eh. Hahaha
ReplyDeleteItu jembatan bambunya ada bobot minimal ga, Mba? Secara liat gambar ngeri banget ya. Kayaknya body aaya harua turun 20 kg lagi biar bisa naik jembatan itu.
waaah rekomended sekali tempatnya ya mba, sepertinya memang perlu berpetualang
ReplyDeleteBaru denger ada yang namanya Pantai Mbuluk. Boleh juga, nih. Tapi nggak bisa rombongan besar kalau ke sana ya. Bisa roboh tuh jembatannya kalau yang lewat banyakan.
ReplyDelete