Skip to main content

Sepeda Onthel Penebus Impian

Kisah perjalanan ini bermula dari sebuah sepeda tua.

Ada yang hobby naik sepeda mungkin? Hobby artinya hanya untuk having fun, jalan-jalan, refreshing, bisa juga untuk menunjang kebutuhan olahraga?

Apa jadinya ketika sebuah sepeda mengantarkan seorang anak desa hingga menjadi sosok yang sukses seperti sekarang ini?

Pic: olx


Iya, anak ini, namanya Iwan Prasetyo. Akrab dipanggil Iwan. Lahir dan besar di Purworejo, dengan kondisi keluarga pas-pas-an, membuatnya tumbuh menjadi anak yang kuat.

Mengayuh sepeda menjangkau 9 kilometer untuk menuju SMP idamannya, 13 kilometer untuk sampai ke SMA unggulan tempatnya menimba ilmu. Ini ukuran kilometer dari berangkatnya saja, belum pulangnya. Bisa membayangkan? 

Hidup dalam keluarga yang amat sederhana, bahkan mungkin jauh dari kata sederhana, membuat Pak Tukiran, Bapak kandung dari Iwan, bekerja semaksimal mungkin untuk menghidupi keluarganya. Adalah Growol, salah satu makanan khas Purworejo, yang selalu Pak Tukiran beli di pasar ketika hari sabtu atau minggu.

pic: okezone.com

Jatah growol ini untuk makan satu minggu. Beras? Kadang ada, kadang tidak. Melalui cerita Iwan, Bapaknya ini pernah berujar, gak penting makannya apa, yang penting anak-anak bisa sekolah. 


Doc: Iwan Prasetyo

Saat SMA, Iwan pernah berdiskusi dengan guru BP di sekolah, disarankan untuk masuk di sekolah tinggi yang punya ikatan kedinasan, supaya biaya kuliah lebih murah dan bisa saja gratis. Tapi ini bukan cita-cita seorang Iwan. 

Iwan kecil, dulu pernah ingin menjadi tukang listrik, pernah terbersit juga pengen jadi tukang telkom, karena kebetulan SMPnya bersebelahan dengan kantor Telkom. Artinya gak pernah dalam bawah sadarnya, ingin masuk ke sekolah kedinasan. Tapi apakah mungkin, tetap mengejar impiannya masuk di PTN sesuai dengan bidang yang ia mau?

Bapaknya hanya berpesan supaya Iwan tidak terlalu memikirkan hal tersebut, fokus saja sekolah, nanti pasti ada jalannya sendiri.

Ternyata memang, kegigihan dalam meraih cita ditambah dukungan dari keluarga dan teman-teman, luar biasa efeknya pada kesuksesan seseorang. 


"Mau maju, artinya harus mau prihatin”, begitu Iwan berujar menyampaikan ulang pesan Bapaknya.

Proses keprihatinan ini, yang membawa seorang Iwan lulus UMPTN, masuk perguruan tinggi negeri favorit di jurusan yang memang ia inginkan.

Perjalanan Iwan mengayuh sepeda melintasi desa-desa di Purworejo sejauh belasan kilometer, hampir setiap hari, kecuali Minggu saat libur sekolah, tentu membuatnya menjadikannya sosok yang sabar dan kuat.

“Pernah itu pas puasa, pulang sekolah, sepeda bocor, gak ada duit buat nambal ban, akhirnya kutuntun sepeda sampai rumah”, cerita Iwan. Padahal, masih setengah perjalanan lagi menuju rumahnya, artinya sekitar 6-7 kilo jalan kaki dengan menuntun sepeda.

Saya menuliskan ini, seperti saya pernah menonton film Si Doel Anak Sekolahan, yang akhirnya berhasil menjadi Tukang Insinyur. Iwan, sahabat yang saya kenal sejak SMA, punya cerita hampir sama, sama-sama penuh perjuangan demi meraih cita-citanya. Demi pendidikan yang diinginkan.

Sekarang Iwan, sudah berumah tangga, dengan 4 bidadari cantik yaitu istri dan ketiga anak-anaknya yang berada di sampingnya. Alhamdulillah hidup mapan, pekerjaan juga mapan. 


Sepertinya klise ya ceritanya, dari susah menjadi senang, dari orang biasa menjadi orang hebat. Tapi percayalah, jika itu cerita dari teman atau sahabat terdekat, bisa membuat kita tercekat beberapa saat, sambil bergumam, ternyata sebegitu menginspirasinya perjalanan hidupnya.

Kisah Iwan dan sepedanya, yang mengantarkannya hingga lulus SMA, menjadi asisten dosen di tempat kuliahnya di UGM, bisa jadi contoh anak-anak lain di negeri ini. Siapa pun punya kesempatan merubah nasibnya.

Perjalanan Iwan dengan sepedanya, yang bisa jadi bagi orang lain terkesan hanya buat jalan-jalan biasa ataupun hanya untuk senang-senang, nyatanya menjadi titik awalnya menemukan dan memperkuat jati dirinya.

“Aku cuma pengen Ibuku masak pake kompor Na, gak pake kayu lagi”, ucapan Iwan beberapa tahun lalu saat kami sering bertukar pikiran masa kuliah dulu.

Kisah Iwan dan sepeda onthel yang sangat berjasa ini membuka mata hati saya, bahwa hidup seseorang memang dirinyalah sendiri yang menentukan mau dan akan seperti apa. Bukan hanya mengganti alat masak Ibunya dengan kompor, tapi Iwan berhasil menaikkan derajat keluarganya.

Meski Bapaknya sudah tiada, Iwan berusaha melanjutkan nilai dan petuah yang sudah didapatkannya semasa Bapaknya masih ada. Kenangan-kenangan membantu Bapaknya saat hari libur, ikut di sawah, membawa kerajinan bambu ke pasar untuk dijual, tentulah modal perjalanan hidup yang tidak bisa terganti dengan apapun.

Antara Iwan, sepeda onthel, perjalanan berkilo-kilo meter ke sekolah, serta sosok Pak Tukiran yang inspiratif, menjadikan saya bertanya ke diri saya sendiri,

“Apakah saya sudah punya suatu tujuan yang jelas dalam hidup ini? Apa saja yang sudah saya lakukan untuk menjemput harapan demi harapan 5-10 tahun dari sekarang?”


Comments

  1. Inspiratif sekali kisahnya mba Inna. Jadi ikutan berpikir ulang tentang tujuan hidup saya. Thanks for sharing 😊

    ReplyDelete
  2. MasyaAlloh kisahnya sangat inspiratif mbak terimakasih mbak

    ReplyDelete
  3. Salut.. Ceritanya inspiratif sekalii

    ReplyDelete
  4. Kisah Inspiratif mbak. Semoga menginspirasi generasi muda agar tidak cengeng

    ReplyDelete
  5. Nice ceritanya mba. Inspiratif sekali utk anak2 zaman now yg serba instan.

    ReplyDelete
  6. Inspiratif banget. Apapun kalau niatnya baik selalu hasilnya juga baik. Langkahnya pun di permudah

    ReplyDelete
  7. Keren mbak ceritanya. Bener, sbenarnya kita sendiri yg menentukan arah hidup kita.

    ReplyDelete
  8. Kisah nyata yg bisa dijadikan inspirasi bagi kita

    ReplyDelete
  9. Inspiratif banget mbak, memang ternyata banyak orang-orang disekitar kita yang bisa memberikan inspirasi. Betapa mereka berjuang hidup demi menggapai tujuan yang diinginkan. Sedih dan bahagia baca artikelnya mbak. Semoga pilihan kita saat ini adalah jalan menuju tujuan hidup kita. Aamiin. Sukses untuk kita mbak,

    ReplyDelete
  10. Inspiratif banget mbak ceritanya. Saya sampai mbrebes mili, dan kemudian saya bertanya pada diri sendiri selama ini saya ngapain saja? Dan ternyata masih belum melakukan apa-apa dan masih bingung arah langkah yang mau diambil.

    ReplyDelete
  11. kagum sama beliau-beliau ini, Bapaknya Pak Iwan juga salut, simple minded. Semoga bisa menjadi orang tua yang mengantarkan anak-anaknya menuju kesuksesan

    ReplyDelete
  12. Masya Allah, hasil tak akan pernah mengkhianati usaha yang telah dilakukan dengan penuh kesungguhan.

    ReplyDelete
  13. Mba innaaaa 😫
    Speechless... Nanceppp banget rasanya klo itu adalah pengalaman teman/sahabat kita sendiri..

    ReplyDelete
  14. Semoga anak2 beliau meneladani bapakny
    Perjuangan membentuk karakter kuat

    ReplyDelete
  15. Masyaallah ... salut dengan kegigihan dan ketabahannya. Salam hormat untuk orang tuanya ...

    ReplyDelete
  16. Saya selalu terkesan dengan kisah perjuangan mereka, benar-benar menginspirasi. Betapa sepeda tua begitu berarti dan menjadi saksi kesuksesan sosok Iwan.

    ReplyDelete
  17. Ya Allah... Kisah inspiratif yang kereeen. Perjuangannya luar biasa, sampai jalan kaki sambil nuntun sepeda. Keyakinannya kini berbuah manis

    ReplyDelete
  18. Masya Allah. Salut. Kesuksesan yg diraih dg latar belakang spt Pak Iwan biasanya memang jlebb. Ada pesan tentang kegigihan dan pantang menyerap walaupun kondisi 'terbatas'. Tapi, nothing is impossible :)

    ReplyDelete
  19. Terharu dan full inspiring people banget ini mba. Aku suka sama petuah dari bapaknya mas Iwan ini, thanks for sharing

    ReplyDelete
  20. Rangkaian kata-kata mb Inna ..mulus lancar, wah buat merinding pas bacanya. Keren bisa nulis kisah teman sendiri dengan nancep begini.
    Makasih sharinv inspirasinya mb.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mic BM 800, Cocok Buat NgeVlog!

Tanpa terasa, project ngeVlog bareng anak-anak mulai masuk bulan ke-3. Sebenarnya sudah kami mulai sekitar 2 tahun lalu, tapi belum terlalu rutin upload kontennya. Barulah 2 bulan belakangan ini, minimal 1 minggu sekali ada materi video baru yang bisa ditonton. Dengan mengusung nama SADDHA STORY, channel youtube ini berisi tentang 3 materi utama sebagai berikut: 1. Wisata Kuliner atau Makan-Makan 2. Piknik atau Jalan-Jalan 3. Lagu Anak/ Lagu Nasional/ Lagu Daerah Fokus channel Saddha Story yang digawangi langsung oleh Ical & Sasha ini memang lahir sebagai bentuk keprihatinan, banyaknya channel youtube yang dibawakan anak-anak, tapi isinya kurang ramah anak. Misal hanya sekedar lucu-lucuan saja, tanpa ada unsur edukatifnya. 

Wisata Kuliner Soto Bangkong, Soto Legendaris Kota Semarang

Punya kesempatan mengunjungi Semarang lagi setelah sekian lama, tentu saja saya gak pengen melewatkan begitu aja untuk berwisata kuliner di kota yang terkenal dengan tahu petis dan lunpianya itu. Tapi tahukah, kalau ternyata Semarang ini juga terkenal dengan wisata kuliner sotonya? Tinggal di kota Semarang selama kurang lebih 5 tahun, Almarhum Bapak saya sering mengajak kami sekeluarga berwisata kuliner, yang paling sering yaaa soto! Jadilah ketika sampai Semarang, berbekal google maps serta melewati jalanan yang membangkitkan memori masa kecil. Pencarian Soto Ijo Dokter Cipto Awalnya, saya mengajak suami untuk mencari lokasi Soto Ijo yang ada di jalan Dokter Cipto Semarang. Berusaha patuh dengan google maps, tapi ternyata gak ketemu, meski sempat muter sampai 2x putaran. Duh, padahal Soto Ijo ini termasuk yang legendaris, dan semacam saya masih ingat benar gimana tastenya yang super enak dan nagih! Oke lah, karena kami sekeluarga udah kelaperan, jam pun sudah makin beranjak ...

WIsata Kuliner Halal di Jalan Suryakencana Bogor

Setiba di Bogor akhir bulan November lalu, saat pergi hanya berdua dengan suami , maka sesampai stasiun lanjut jalan kaki ke Onih hotel tempat kami menginap . Istirahat dan sholat Ashar sebentar, lalu mulai hunting kuliner Bogor. Mmm kemana ya? pintu gerbang jalan suryakencana bogor Setelah searching, maka kami pun menuju kawasan Pecinan yaitu di jalan Suryakencana . Tentu di kawasan Pecinan ini menawarkan aneka kuliner baik halal maupun tidak halal. Bahkan beberapa tempat makan, memberi informasi di pintu masuk, bahwa tempatnya tersebut hanya menjual makanan halal. Meski sudah makan siang di rumah, saat perjalanan dari Jakarta ke Bogor, rupanya meski belum tiba waktunya jam makan malam, saya dan suami sudah kelaperan aja nih. Mungkin faktor jalan kaki dari stasiun ke hotel, terus dari hotel ke jalan Suryakencana . Ya kira-kira 2-3 kilometer. Nah gimana mau kurus, kalori baru aja terbakar maksimal, udah mau diisi lagi :P Ya, tapi kan baru liburan nih, masa gak menikmati mak...