Skip to main content

Review Buku: Keliling Asia, Memburu Cahaya

".....kini aku ingin memiliki tujuan yang jelas dalam setiap perjalanan. Bagaimana caranya? Tujuan baru ini mungkin bisa membuatku belajar lebih banyak..."
Sepenggal cuplikan kalimat inilah yang langsung menarik minat saya, untuk memboyong buku karya Tary Lestari yang berjudul "Keliling Asia, Memburu Cahaya.


Tary adalah seorang penulis cerpen, novel, artikel perjalanan dan juga skenario. Karya-karyanya juga sudah menghiasi beragam media di Indonesia, salah satu yang cukup terkenal adalah ikut sebagai tim penulis skenario sinetron televisi Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

Buku yang diberi label "Travel Diary" ini memang berisi perjalanannya ke kota-kota di negara-negara Asia dari Xi'an hingga Hochiminh, dimana sang penulis menemukan banyak cerita dari budaya masing-masing lokasi yang dikunjunginya, berikut dengan indahnya sisi kemanusiaan yang ia temukan.
Tersesat, adalah salah satu hal yang selalu muncul dalam tiap chapter di buku ini. Wajar saja, siapapun di tempat yang sangat baru, dengan bahasa yang benar-benar berbeda, namanya nyasar bisa saja terjadi. Kebetulan Tary ini dalam tulisannya menyebutkan tidak menggunakan google maps, karena ia tidak mengaktifkan nomor operator di negara ia singgah. Jadilah peta adalah pemandu utamanya.

Bertanya ke penduduk lokal dengan bahasa lokal yang sebagian besar tidak mampu bahasa Inggris, pastinya sebuah kendala tersendiri. Kadang cukup tertolong dengan bahasa tubuh atau suara-suara tertentu, namun terkadang tidak.

Hanya saja, somehow di tengah rasa cemas, lapar, bingung, sang penulis hampir selalu mendapatkan bantuan dari para penduduk lokal yang beberapa diantaranya bisa berbahasa Indonesia.

Tujuan perjalanan Tary, sang travel writer ini, mulanya hanya sekedar jalan-jalan, tapi di suatu ketika, ia menemukan jati diri dari setiap travellingnya, yaitu menemukan masjid. Terutama masjid tertua ataupun tertua di kota yang ia singgahi.

Butuh perjuangan, dan tidak mudah. Sempat dikejar anjing, sempat diganggu lelaki iseng, dan aneka hambatan lainnya. Tapi inilah yang menjadi titik indahnya travel diary yang disusunnya.

Perjalanan sama saja seperti kehidupan, kadang kala mulus, kadang juga ada gronjalan. Disinilah penulis menemukan cahaya. Memburu cahaya untuk kesegaran jiwa dan imannya. Seperti saat ia bertemu dengan nenek tua baya, yang hidup di sebuah rumah kumuh dekat pemakaman umum. Nenek ini hidup sebatang kara setelah ia memutuskan menjadi mualaf.

Membaca travel diary ini, membuat saya ikut tersentuh dengan perjalanan si penulis. Bahkan keindahan kota-kota yang diceritakannya, meskipun saya tahu itu begitu mempesona, tapi cerita dari sisinya yang lain, membuat buku ini sangat manusiawi.

Seperti apa saja keindahan yang bisa kita ikut rasakan dalam buku ini? Pastikan baca juga yuk! :)


Comments

  1. Wahh seruu yahh..akupun jd mau baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akupun ikut berasa jalan jalannn mb pas bacanya

      Delete
  2. Kisah Perjalanan yang syarat makna jadinya ya

    ReplyDelete
  3. Selalu suka sama buku traveling 😍😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa ibarat ikut jalan jalan gratisss ☺️

      Delete
  4. Buku traveling gini, bikin pengen jalan-jalan. . :D

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Iya banyak sisi manusiawi yang bisa kita pelajari

      Delete
  6. Ah senang ya bisa traveling sambil menemukan sesuatu yang berarti. Menjadikan traveling bukan sekedar jalan2 biasa. Alhamdulillah 😊

    ReplyDelete
  7. Nunggu dijadiin film ah nih buku, nanti tinggal ntn filmnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha iyaaa lebih praktis dinikmati kalo dibikin film ya

      Delete
  8. Racuuun ah jadi pingin punya bukunya. Penyakit dah kalau baca resensi jadi mupeng pingin beli buku.

    ReplyDelete
  9. Traveler menemukan buku travel diary. Seru donk.

    ReplyDelete
  10. Travelling yang sarat dengan faedah, seru banget jadi pengen baca

    ReplyDelete
  11. Wah ini nih keren. Kayaknya bakal nangis kalo baca ini. Dan nyasar itu sebenernya malah mengantar kita ke petualangan baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benerrrr, ada petualangan di dalam petualangan 😘

      Delete
  12. Negaranya mana aja, Mbak??? Penasaraan 😆😅

    ReplyDelete
  13. Wahh keren nih reviewnya, jadi penasaran sama bukunya. 😍😍 hampir mirip bukunya agustinus Wibowo ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mic BM 800, Cocok Buat NgeVlog!

Tanpa terasa, project ngeVlog bareng anak-anak mulai masuk bulan ke-3. Sebenarnya sudah kami mulai sekitar 2 tahun lalu, tapi belum terlalu rutin upload kontennya. Barulah 2 bulan belakangan ini, minimal 1 minggu sekali ada materi video baru yang bisa ditonton. Dengan mengusung nama SADDHA STORY, channel youtube ini berisi tentang 3 materi utama sebagai berikut: 1. Wisata Kuliner atau Makan-Makan 2. Piknik atau Jalan-Jalan 3. Lagu Anak/ Lagu Nasional/ Lagu Daerah Fokus channel Saddha Story yang digawangi langsung oleh Ical & Sasha ini memang lahir sebagai bentuk keprihatinan, banyaknya channel youtube yang dibawakan anak-anak, tapi isinya kurang ramah anak. Misal hanya sekedar lucu-lucuan saja, tanpa ada unsur edukatifnya. 

Wisata Kuliner Soto Bangkong, Soto Legendaris Kota Semarang

Punya kesempatan mengunjungi Semarang lagi setelah sekian lama, tentu saja saya gak pengen melewatkan begitu aja untuk berwisata kuliner di kota yang terkenal dengan tahu petis dan lunpianya itu. Tapi tahukah, kalau ternyata Semarang ini juga terkenal dengan wisata kuliner sotonya? Tinggal di kota Semarang selama kurang lebih 5 tahun, Almarhum Bapak saya sering mengajak kami sekeluarga berwisata kuliner, yang paling sering yaaa soto! Jadilah ketika sampai Semarang, berbekal google maps serta melewati jalanan yang membangkitkan memori masa kecil. Pencarian Soto Ijo Dokter Cipto Awalnya, saya mengajak suami untuk mencari lokasi Soto Ijo yang ada di jalan Dokter Cipto Semarang. Berusaha patuh dengan google maps, tapi ternyata gak ketemu, meski sempat muter sampai 2x putaran. Duh, padahal Soto Ijo ini termasuk yang legendaris, dan semacam saya masih ingat benar gimana tastenya yang super enak dan nagih! Oke lah, karena kami sekeluarga udah kelaperan, jam pun sudah makin beranjak ...

WIsata Kuliner Halal di Jalan Suryakencana Bogor

Setiba di Bogor akhir bulan November lalu, saat pergi hanya berdua dengan suami , maka sesampai stasiun lanjut jalan kaki ke Onih hotel tempat kami menginap . Istirahat dan sholat Ashar sebentar, lalu mulai hunting kuliner Bogor. Mmm kemana ya? pintu gerbang jalan suryakencana bogor Setelah searching, maka kami pun menuju kawasan Pecinan yaitu di jalan Suryakencana . Tentu di kawasan Pecinan ini menawarkan aneka kuliner baik halal maupun tidak halal. Bahkan beberapa tempat makan, memberi informasi di pintu masuk, bahwa tempatnya tersebut hanya menjual makanan halal. Meski sudah makan siang di rumah, saat perjalanan dari Jakarta ke Bogor, rupanya meski belum tiba waktunya jam makan malam, saya dan suami sudah kelaperan aja nih. Mungkin faktor jalan kaki dari stasiun ke hotel, terus dari hotel ke jalan Suryakencana . Ya kira-kira 2-3 kilometer. Nah gimana mau kurus, kalori baru aja terbakar maksimal, udah mau diisi lagi :P Ya, tapi kan baru liburan nih, masa gak menikmati mak...