Skip to main content

Emak Ranseller

Sejak beberapa minggu terakhir ini, saya cukup sering bolak-balik Jogja-Jakarta kisaran 2-3 hari setiap minggunya, untuk mengerjakan proyek dubber & sandiwara radio. Otomatis sebagai emak-emak anak 2 yang dua-duanya sudah sekolah, harus putar otak, cari cara, supaya segala sesuatu tetap berlangsung dengan aman sentosa.

Mulai dari menyiapkan terlebih dulu apa saja yang perlu anak-anak bawa ke sekolah selama saya pergi 2-3 harian, siapa yang bisa antar jemput anak-anak secara biasanya semua saya handle semuanya, hingga pernak-pernik lain yang anak-anak butuhkan selama saya tidak di rumah.

Setelah semua delegasi dan rekomendasi tugas di rumah beres, saya lanjut memikirkan diri saya, terutama dengan pergi hanya beberapa hari saja dan tanpa anak-anak, maka saya tidak butuh koper ataupun tas yang terlalu besar.

Selama ini koleksi di rumah, adalah tas koper kalo untuk bepergian, karena 90% perginya pasti bareng anak-anak. Nah, kali ini artinya beda ceritanya, saya harus mempersiapkan ala saya, ala emak-emak yang mau kerja keluar kota. Kalo kata orang sih, nama bekennya, Business Traveller. Halah, saya kan tidak sedang mengerjakan bisnis. Saya itu ke Jakarta dalam rangka menyalurkan hobby cuap-cuap saja kok :D

Bicara tentang tas, untuk sehari-hari di Jogja pun, saya jarang pake tas wanita, macam hand bag, tote bag, dll. Malah bisa dibilang sekarang gak punya. Lebih seneng tas slempang bahan kanvas begitu, macam anak kuliahan. Maka ketika pilihan apa yang saya bawa untuk ke Jakarta ala Emak Traveller atau Emak Backpackeran, adalah Tas Ransel.




Tas ransel pertama cukup besar, isinya baju-baju yang saya pakai selama di Jakarta. Satunya lagi tas ransel yang agak kecil, ini lebih untuk mobiling. Naik gojek (go ride) kemana-mana, otomatis saya harus cari tas yang simple, ringkas, tapi tetap aman & nyaman untuk naro segala isinya.

Saat memilih tas ransel pun, saya juga memilih dengan bahan yang ringan, tapi tetap tahan/ kedap air. Karena isinya segala peralatan tempur, yang jadi sumber penghasilan :D



Dari mulai laptop, charger, smartphone, power bank, segala macem kabel. Tentu saja dompet, tisue, mukena, materi recording. Bedak & body mist juga dibawa, meski jarang juga dipakai akhirnya. Hanya pas butuh aja. Lipstik? Duh, sekarang ini jarang banget pake, jadi hampir gak pernah saya taro di tas.

Ransel, jadi sahabat terbaik selama saya bekerja sebagai freelancer di Jakarta. Beratnya pas dan bikin gak perlu bingung mau taro di pergelangan atau taro di pundak saat wara-wiri kesana kemari. Cukup gemblokin ke punggung, beresss!

Ayo ayooo siapa disini yang statusnya Emak-Emak dan masih suka pake ransel kek saya? :)

Comments

  1. Ya ampun mbaa, kece bangeet sih mba. Sukaaa 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Percayalah ketika ransel itu penuh dan berat, maka derajat kekecean langsung berkurang 60% 😂😂

      Delete
  2. Saya masih suka pake ransel mba lebih nyaman

    ReplyDelete
  3. Saya mbak. Biarpun emak emak seperti aya, ransel masih menjadi tas favorit saya. Setiap hari naik sepeda motor, ransel lebih aman menurut saya

    ReplyDelete
  4. Akuuuuuu.. tas ransel itu muat banyak dan gak capek hahaha

    ReplyDelete
  5. Kalah saya sebagai anak muda, tas dari smp itu itu mulu saya😂bner emak emak gaul ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu ganti ransel karena ransel saya SMP yang uda dipake ampe bulukan itu uda jeboll mas 🤣🤣🤣

      Delete
  6. Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  7. Sama mbaaaaa, *walau belum emak"* saya tetep cinta ransel. Nyaman aman dan sehat pula.

    Oh ya, btw saya jadi kepo kepo sedikit mba, mba dubber? :3 dari dulu saya kagum sama job ini

    ReplyDelete
  8. saya juga lebih suka pakai ransel, kalau tas bahu bisa sakit salah satu bahu krn ngak balance.

    ReplyDelete
  9. Akuuuuu :) . Ke kantor ato kalo sdg traveling, pasti ransel ga pernah lupa. Koper sih ttp bawa, tp ransel wajib juga, utk barang2 yg ga bisa ditaro di koper :) . Padahal aku juga koleksi aneka tas, dr tote bag, satchell, clutch, dll, tp ransel selalu favorit

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mic BM 800, Cocok Buat NgeVlog!

Tanpa terasa, project ngeVlog bareng anak-anak mulai masuk bulan ke-3. Sebenarnya sudah kami mulai sekitar 2 tahun lalu, tapi belum terlalu rutin upload kontennya. Barulah 2 bulan belakangan ini, minimal 1 minggu sekali ada materi video baru yang bisa ditonton. Dengan mengusung nama SADDHA STORY, channel youtube ini berisi tentang 3 materi utama sebagai berikut: 1. Wisata Kuliner atau Makan-Makan 2. Piknik atau Jalan-Jalan 3. Lagu Anak/ Lagu Nasional/ Lagu Daerah Fokus channel Saddha Story yang digawangi langsung oleh Ical & Sasha ini memang lahir sebagai bentuk keprihatinan, banyaknya channel youtube yang dibawakan anak-anak, tapi isinya kurang ramah anak. Misal hanya sekedar lucu-lucuan saja, tanpa ada unsur edukatifnya. 

Wisata Kuliner Soto Bangkong, Soto Legendaris Kota Semarang

Punya kesempatan mengunjungi Semarang lagi setelah sekian lama, tentu saja saya gak pengen melewatkan begitu aja untuk berwisata kuliner di kota yang terkenal dengan tahu petis dan lunpianya itu. Tapi tahukah, kalau ternyata Semarang ini juga terkenal dengan wisata kuliner sotonya? Tinggal di kota Semarang selama kurang lebih 5 tahun, Almarhum Bapak saya sering mengajak kami sekeluarga berwisata kuliner, yang paling sering yaaa soto! Jadilah ketika sampai Semarang, berbekal google maps serta melewati jalanan yang membangkitkan memori masa kecil. Pencarian Soto Ijo Dokter Cipto Awalnya, saya mengajak suami untuk mencari lokasi Soto Ijo yang ada di jalan Dokter Cipto Semarang. Berusaha patuh dengan google maps, tapi ternyata gak ketemu, meski sempat muter sampai 2x putaran. Duh, padahal Soto Ijo ini termasuk yang legendaris, dan semacam saya masih ingat benar gimana tastenya yang super enak dan nagih! Oke lah, karena kami sekeluarga udah kelaperan, jam pun sudah makin beranjak ...

WIsata Kuliner Halal di Jalan Suryakencana Bogor

Setiba di Bogor akhir bulan November lalu, saat pergi hanya berdua dengan suami , maka sesampai stasiun lanjut jalan kaki ke Onih hotel tempat kami menginap . Istirahat dan sholat Ashar sebentar, lalu mulai hunting kuliner Bogor. Mmm kemana ya? pintu gerbang jalan suryakencana bogor Setelah searching, maka kami pun menuju kawasan Pecinan yaitu di jalan Suryakencana . Tentu di kawasan Pecinan ini menawarkan aneka kuliner baik halal maupun tidak halal. Bahkan beberapa tempat makan, memberi informasi di pintu masuk, bahwa tempatnya tersebut hanya menjual makanan halal. Meski sudah makan siang di rumah, saat perjalanan dari Jakarta ke Bogor, rupanya meski belum tiba waktunya jam makan malam, saya dan suami sudah kelaperan aja nih. Mungkin faktor jalan kaki dari stasiun ke hotel, terus dari hotel ke jalan Suryakencana . Ya kira-kira 2-3 kilometer. Nah gimana mau kurus, kalori baru aja terbakar maksimal, udah mau diisi lagi :P Ya, tapi kan baru liburan nih, masa gak menikmati mak...