Skip to main content

Berani Membeli Mimpi Ala Hastin Pratiwi


Impian? Bisa dibeli memangnya? Dengan apa?

Bagi sebagian orang, barangkali sudah terlalu lelah bermimpi, letih berharap dengan segala cita-cita yang belum kesampaian. Tapi tidak bagi seorang Hastin Pratiwi. Tiwi nama panggilannya, seorang single mom untuk Lubna putri tercintanya. 

Sekitar 15 tahun lalu, Tiwi pernah bermimpi untuk bisa ke tanah suci, tepatnya untuk melaksanakan ibadah haji. Iya, sebuah perjalanan spiritual. Sebuah travelling untuk mendekatkan diri ke Ilahi. Suatu saat, pernah mendapatkan kabar memenangkan uang 60 juta dari sebuah undian. Hal ini sudah membuat Tiwi berharap bisa berangkat ke tanah suci dengan uang tersebut. Tapi sayangnya, itu hanya penipuan.

Lalu apakah Tiwi berhenti bermimpi? Nyatanya tidak. Selain terus melakukan aktivitasnya sebagai IRT, freelance writer dan editor, hari-harinya yang sebagian besar dipenuhi dengan kegiatan bersama anak dan bejibun artikel yang dilahapnya, Tiwi menyadari bahwa sebuah impian itu layak untuk diperjuangkan.


Melalui Buku Ippho Santosa "Moslem Millionare", Tiwi menemukan ilmu sederhana untuk pencapaian impiannya ke tanah suci, yaitu berupa percepatan rejeki melalui sedekah, terutama umroh. Pernah hadir dalam seminar Ippho di Jogjakarta, Tiwi belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang besar, maka tidak bisa kita sembarangan juga dalam penyempurnaan ikhitiarnya. 

Permasalahan keluarga yang hadir dalam kehidupan Tiwi, nyatanya membuat perempuan yang senantiasa berhijab syar'i ini, makin dekat dengan Sang Maha Kuasa. Simpul-simpul dalam dirinya menjadi lebih tajam dari sebelumnya dalam memandang segala hal. Impian perjalanan ke tanah suci juga masih menjadi salah satu prioritas dalam hidupnya, meski ia sendiri kurang tahu persis, kapan Allah akan kabulkan.

November 2017, adalah momentum pertama seorang Tiwi menuliskan tentang impiannya ingin ke tanah suci. Sesuai dengan ilmu yang didapatkan dalam seminar Ippho, maka ia pun menuliskan bahwa umroh adalah salah satu impian dalam perjalanan hidupnya, melalui metode menulis sebelum tidur dengan kedua tangan, kanan dan kiri. Tujuannya supaya impiannya lebih terpatri, apalagi menulisnya jelang tidur, dimana otak berada pada kondisi alpha yang bagus untuk afirmasi segala sesuatu yang berkaitan dengan cita-cita.

https://facebook.com/hastinpratiwi/

Dengan kehidupan dan pekerjaannya secara freelance, yang masih belum jelas secara penghasilan, tentulah keraguan kadang hadir. Bukan hanya dari dirinya sendiri tapi juga dari orang-orang di sekelilingnya.

Tapi siapa sangka? Kehidupan manusia memang seperti roda, kadang diatas dan kadang dibawah. Hingga di bulan Maret 2018, Allah memberikan rezeki yang datangnya tak diduga, otomatis hal ini membuat Tiwi mempunyai sedikit banyak dana untuk pergi umroh, seperti ilmu yang ia dapatkan dari Ippho. Ia tidak ingin menunda lagi. Ada rezeki, maka kembalikan ke niatan awal, yaitu ke tanah suci.




Allahu Akbar. Gusti Allah pancen mboten sore. Allah itu memang tidak tidur. Biro perjalanan umroh mengurus segala dokumen, dan memberikan informasi ke Tiwi bahwa keberangkatan kloter umroh pada bulan April 2018 tersebut sekaligus mengunjungi Turki. 


Subhanallah. Turki? Padahal ini adalah impian Tiwi lainnya yang selama ini hanya terpendam dalam sanubarinya. Memang, Allah ketika berkehendak JADI, maka JADILAH. Hingga hanya dalam kisaran 3 minggu, Tiwi berangkat ke tanah suci plus Turki.

“Gak sadar, ternyata Allah menyatukan impianku, yaitu ke Tanah Suci sekaligus ke Turki”.

Berangkat umroh di tengah polemik yang terjadi dalam rumah tangganya, membuat Tiwi senantiasa terharu tiap menatap Kabah. Haru bercampur rasa syukur yang luar biasa, karena impian perjalanan ke tanah suci berbelas tahun lalu, akhirnya tercapai juga. 

https://facebook.com/hastinpratiwi/


“Janji Allah itu Pasti”, ucap Tiwi dalam wawancara yang kami gelar melalui telepon ini. 

https://facebook.com/hastinpratiwi/

“Tidak ada yang tidak mungkin”, begitu tambahnya kemudian. Benar adanya, semua hal itu mungkin jika Allah sudah berkehendak. Bahkan ketika berada di tanah suci maupun Turki, Tiwi yang berangkat hanya dengan jamaah umroh, yang artinya tanpa keluarga, hanya seorang diri tanpa pasangan, membuatnya menemukan satu esensi mendasar, “Ternyata dalam kesendirian aku menemukan kenyamanan”.

https://facebook.com/hastinpratiwi/


Mengenal Mbak Tiwi, begini saya menyebutnya, sesosok yang saya lihat sebagai seorang yang kuat dengan balutan kelembutannya, sosok yang tangguh dibalik kesederhanaannya.  

Darinya saya belajar, bahwa travelling bukan hanya sekedar bagaimana kita senang-senang dan berhura-hura, justru dengan sebuah perjalanan yang kita niatkan untuk ibadah, maka indahnya bukan hanya di pelupuk mata, tapi juga mengental hingga ke jiwa.

https://facebook.com/hastinpratiwi/

 Di akhir wawancara, Mbak Tiwi mengungkapkan setelah perjalanan spiritualnya ke tanah suci, maka dengan profesinya sebagai seorang penulis artikel, lebih banyak untuk tujuan berdakwah, menebarkan kebaikan.

Sejatinya, kebaikan itu bukan untuk kita lihat ataupun kita dengar, tapi untuk kita rasa dan cermati. Sudahkah kita menemukan esensi kebaikan dalam tiap perjalanan kita?

Comments

  1. Mbak, masha Allah, bergetar rasanya hati ini membaca tulisan ini di malam eh dini hari kayak gini.

    Biasanya, saya cuman denger afirmasi kayak gini dalam dunia bisnis, ternyata di dunia non bisnis juga banyak yaa..

    Subhanallah...

    Baru ngeh saya dengan blog ini, keren2 euy isinya.
    Bakalan sering ke sini nih saya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa afirmasi ternyata memang berlaku dalam hal apapun ya Rey

      Delete
  2. Bisa buat pembelajaranku yg lagi kecewa ini mb..
    Bahwa Allah mboten sare.. Sekarang mungkin sedang di bawah.. Semoga kelak bisa mencapai yg dicita"kan.. Aamiin

    ReplyDelete
  3. Betul banget mbaa, tidak ada yg tidak mungkin selagi kita mau berusaha dan terus berikhtiar. Semangaaat buuuk 😍

    ReplyDelete
  4. Masya Allah... inspiratif sekali... semoga bisa seperti beliau..

    ReplyDelete
  5. Gusti Allah pancen mboten sare. Setuju banget. He has plans for us, just keep your faith :")

    ReplyDelete
  6. Duh pingin banget. Mbak Hastin memang oke dah. Makasih sharing nya mbak inna

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Yap selama kita terus berusaha pasti ada jalan

      Delete
  8. Kekuatan mimpi membawa ke jalanNya ya mba

    ReplyDelete
  9. Begitu ada nama Hastin disebut, jadi kepo-lah saya terlebih begitu melihat tulisan tangannya...insyaAllah apapun yang kita inginkan jika kita ikhlas dan percaya atas ketentuan NYA pasti dimudahkan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mic BM 800, Cocok Buat NgeVlog!

Tanpa terasa, project ngeVlog bareng anak-anak mulai masuk bulan ke-3. Sebenarnya sudah kami mulai sekitar 2 tahun lalu, tapi belum terlalu rutin upload kontennya. Barulah 2 bulan belakangan ini, minimal 1 minggu sekali ada materi video baru yang bisa ditonton. Dengan mengusung nama SADDHA STORY, channel youtube ini berisi tentang 3 materi utama sebagai berikut: 1. Wisata Kuliner atau Makan-Makan 2. Piknik atau Jalan-Jalan 3. Lagu Anak/ Lagu Nasional/ Lagu Daerah Fokus channel Saddha Story yang digawangi langsung oleh Ical & Sasha ini memang lahir sebagai bentuk keprihatinan, banyaknya channel youtube yang dibawakan anak-anak, tapi isinya kurang ramah anak. Misal hanya sekedar lucu-lucuan saja, tanpa ada unsur edukatifnya. 

Wisata Kuliner Soto Bangkong, Soto Legendaris Kota Semarang

Punya kesempatan mengunjungi Semarang lagi setelah sekian lama, tentu saja saya gak pengen melewatkan begitu aja untuk berwisata kuliner di kota yang terkenal dengan tahu petis dan lunpianya itu. Tapi tahukah, kalau ternyata Semarang ini juga terkenal dengan wisata kuliner sotonya? Tinggal di kota Semarang selama kurang lebih 5 tahun, Almarhum Bapak saya sering mengajak kami sekeluarga berwisata kuliner, yang paling sering yaaa soto! Jadilah ketika sampai Semarang, berbekal google maps serta melewati jalanan yang membangkitkan memori masa kecil. Pencarian Soto Ijo Dokter Cipto Awalnya, saya mengajak suami untuk mencari lokasi Soto Ijo yang ada di jalan Dokter Cipto Semarang. Berusaha patuh dengan google maps, tapi ternyata gak ketemu, meski sempat muter sampai 2x putaran. Duh, padahal Soto Ijo ini termasuk yang legendaris, dan semacam saya masih ingat benar gimana tastenya yang super enak dan nagih! Oke lah, karena kami sekeluarga udah kelaperan, jam pun sudah makin beranjak ...

WIsata Kuliner Halal di Jalan Suryakencana Bogor

Setiba di Bogor akhir bulan November lalu, saat pergi hanya berdua dengan suami , maka sesampai stasiun lanjut jalan kaki ke Onih hotel tempat kami menginap . Istirahat dan sholat Ashar sebentar, lalu mulai hunting kuliner Bogor. Mmm kemana ya? pintu gerbang jalan suryakencana bogor Setelah searching, maka kami pun menuju kawasan Pecinan yaitu di jalan Suryakencana . Tentu di kawasan Pecinan ini menawarkan aneka kuliner baik halal maupun tidak halal. Bahkan beberapa tempat makan, memberi informasi di pintu masuk, bahwa tempatnya tersebut hanya menjual makanan halal. Meski sudah makan siang di rumah, saat perjalanan dari Jakarta ke Bogor, rupanya meski belum tiba waktunya jam makan malam, saya dan suami sudah kelaperan aja nih. Mungkin faktor jalan kaki dari stasiun ke hotel, terus dari hotel ke jalan Suryakencana . Ya kira-kira 2-3 kilometer. Nah gimana mau kurus, kalori baru aja terbakar maksimal, udah mau diisi lagi :P Ya, tapi kan baru liburan nih, masa gak menikmati mak...